Kami di Indonesia

english versionDeutsche Version



Di sini Anda bisa menemukan cerita-cerita kehidupan kami dan pekerjaan kami. 

Cerita-cerita yang lebih lama bisa ditemukan di akhir halaman atau di dalam arsip:

Cerita-cerita 2008



Map: http://de.wikipedia.org/wiki/Bild:LocationIndonesia.svg

Halaman ini diterjemahkan oleh Ibu Lidya Butarbutar, S.Th.


HomepageKami di IndonesiaTentang kamiSTT-HKBPVEM/UEMBuku tamuImpressum


Musim dingin di JermanDesember 2009: Jerman

Setelah semester dan ujian-ujian sudah selesai, kami pulang Jerman pertama kalinya. Betapa hebat musim dingin di Eropa! Perbedaan suhu lebih dari 45 Celsius mengejutkan tidak hanya Si Noah! Tetapi kami senang bertemu lagi dengan teman teman dan keluarga besar di Königswinter, Saarbrücken, Heidelberg dan Swiss. Khususnya orangtua kami senang sekali bertemu lagi dengan Noah. Dan hanya terjadi dua kali masalah oleh sebab salju: Thomas terjebak di kereta api dan hampir tidak bisa memenuhi janji di Wuppertal. Dan pesawat kami kembali ke Indonesia terlambat oleh sebab harus dibebaskan dari es sebelum bisa berangkat.
Photograph: Winter in Germany © Bergholz 2009


November 2009: Jakarta dan Siantar
Church in Jakarta

Masih du bulan oktober sebenarnya, ketika Thomas diundang ke Jakarta untuk Peringatan 75 tahun Ulang Tahun STT (Sekolah Tinggi Teologia). Bagian yang paling menarik di samping pertemuan dengan teman kerja Indonesia dan Jerman adalah kebaktian dalam sebuah Gereja di semacam Aula atau ruang tamu besar. Pembangunan dan liturgi dipengaruhi oleh kebaktian-kebaktian di Amerika melalui televisi: semua kebaktian bisa dilihat pada layar TV, tidak ada lektor (liturgis) tetapi seorang semacam moderator, lalu musik dan pengumuman seringkali datang dari “Off” (secara tidak langsung).


Regina  teachingDi sini, di Siantar, semester kedua sudah hampir selesai. Regina tidak hanya memberi kuliah resmi Bahasa Inggris, tetapi juga les privat Bahasa Jerman kepada beberapa mahasiswa di dalam rumah kami.




Left photograph: Regina with students,
right: church in Jakarta. © Bergholz 2009


Oktober 2009: Siantar

ReginaBulan Oktober dimulai dengan sibuk: Regina diundang oleh Fakultas Pendidikan Universitas Nommensen untuk memberikan pidato resmi pada hari kelulusan.

mahasiswaPada hari yang sama mahasiswa-mahasiswi STT berkumpul di kampus STT. Mereka menuntut tentang kondisi hidup dan kondisi fasilitas ajaran di STT: Perpustakaan yang tidak memadai, dan beberapa perincian kurikulum yang membingungkan. Disana ada penampilan khas Batak: dengan musik dan tari tradisional.

Kiri: Dr. Regina sebagai anggota fakultas Teologi STT. Kanan: Mahasiswa/i STT. Bergholz © 2009


September 2009: Siantar dan Perdagangan

WisudaBeberapa peristiwa menarik terjadi pada bulan ini. pertama, kami "diulosi" - kami menerima karya tangan tradisional Batak yang disebut ulos sebagai tanda "selamat datang" dan tamah-tamah.

Kemudian kami merayakan hari kelulusan: Semua dosen dan wisudawan/ti berpartisi pasi dalam pakaian akademis - pemandangan yang aneh bagi kami orang jerman, yang tidak terbiasa dengan pakaian wisudawan lagi sejak 1968, di mana tradisi kuno dihapuskan setelah "revolusi" mahasiswa Jerman.olob-olobolob-olob 1

Kemudian ada juga acara tahunan "olob-olob", semacam acara syukuran dari Gereja Simalungun (GKPS) untuk kedatangan misionari pertama Jerman pada tahun 1905. Laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian tradisional dan menampilkan tahan tradisional selama acara berlangsung.

Semua photo: Bergholz © 2009


Agustus 2009: SiantarKemerdekaan

Pada tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia, diadakan upacara bendera yang biasa dilakukan di STT. Dalam penglihatan kami sedikit aneh, melihat barisan mahasiswa menaikkan bendera kebangsaan, memproklamasikan UUD dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu-lagu lain dari perang kemerdekaan. Dalam pidatonya, Dr. Darwin membuat referensi terhadap doktrin resmi Pancasila, yang menjamin kebebasan agama, kesatuan dan keadilan sosial seluruh bangsa Indonesia.

Photo: Bergholz © 2009


Juli 2009: Siantar

Pada akhir bulan Juni semester berakhir, dan kami mempunyai sedikit waktu untuk diri kami. Pada waktu yang sama kami mendapat tamu pertama dari Jerman, dan kami bersama-sama pergi keluar untuk tur kecil-kecilan ke tanah Karo dan ke danau Toba. 

Summer coursePada bulan Juli, Regina mulai mangajar di STT. Sebelum semester dimulai pada Agustus, selalu ada kursus persiapan untuk mahasiswa-mahasiswi baru. Bersama dengan Rosemary Winderlich, dan Marion dan Mark Schubert, tiga pengajar sukarela dari australia, Regina memberikan kursus bahasa Inggris selama tiga jam per hari untuk 80 mahasiswa.

Photo: Regina, Rosemary Winderlich, Mark dan Marion Schubert (dari kiri) © Bergholz


Mei 2009: MedanMedan 23 Mei

Pada 23 Mei dilaksanakan seminar gabungan di Medan tentang Paulus. Seminar tersebut diatur oleh Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Uskup Agung Roma Katolik di Medan. Dr. Paulus Tantiono OFMCap dari STFT Katolik die Siantar berbicara tentang "Hidup dan Misi Paulus", dan Thomas berbicara tentang "Pendekatan teologis da misionaris Paulus dalam Gereja Protestan."

Pada 14 Mei, Noah berulangtahun yang 1, jadi kami membuat pesta kecil dengan teman-teman Jerman kami dari Siantar.

Foto: Marihot Simanjuntak


MwombekiApril 2009: Siantar

Beberapa minggu belakangan ini kami mengalami dua peristiwa besar di Siantar: Ulang tahun 175 Dr. Ludwig Inwer Nommensen, misionaris Jerman. Dr. Uwe Hummel dari UEM dan dua cucu Nommensen datang ke Sumatera.

Pada bulan April saat perayaan 31 tahun seminarium itu. Dr. Fidon Mwombeki, sekretaris jenderal UEM menjadi dosen tamu di STT. Gambar ini menunjukkan Rektor Dr. Darwin Lumbatobing pada sisi kanan dan Ketua Puket 1 Colan Pakpahan pada sisi kiri Dr. Mwombeki. Dia baru menerima ulos, kerajinan tangan yang penuh warna.

Foto: Bergholz © 2009


Maret 2009: Siantarsampah

Kami telah mengatakan tentang masalah sampah. Kampus STT HKBP dengan lebih dari 400 orang didalamnya secara umum tidak terhubung dengan sistem pembuangan kota. Ini berarti bahwa para murid dan dosen membakar sampah mereka secara utuh di kebun atau halaman rumah dan asrama. Sampah kebun dan sampah dapur mungkin bukan masalah yang terbesar, tetapi sampah modernitas yang berbentuk plastiklah yang menjadi masalah besar. Setiap hari kami hidup dengan awan asap beracun di seluruh kampus.

murid sampahJadi, kami mengundang Dr. Lea Jellinek dari Universitas Monash (Australia). Dia menangani hal yang sama beberapa tahun yang lalu di Yogyakarta. Dia mengusulkan untuk memisahkan sampah menjadi 4 kategori seperti plastik, kaca dan logam dapat dijual, dan kompos dapat digunakan untuk berkebun. Telah ada perusahan daurulang swasta yang merberikan uang untuk sampah plastik yang telah dipisahkan dan bersih. Kami sangat ingin tahu apakah sistem ini dapat berjalan dengan baik.

Foto: Bergholz © 2009


Maret 2009: Siantar dan Danau Toba

pesta rumahBagian pertama dari semester awal saya sudah selesai. Dua minggu kedepan kami akan libur paskah selama 3 minggu. Pada 13 Maret kami mengadakan pesta di Siantar dengan semua rekan kerja dan teman Jerman yang ada di Siantar. 

Danau TobaWaktu akhir pekan kami habiskan kebanyakan di Danau Toba, karena disana udaranya dan segar dan iklim yang menyenangkan. Disanalah kami bertemu Lea Jellinek dan Ed Kiefer, dua orang spesialis lingkungan dari Australia. Mereka memberikan kami ide untuk memikirkan tentang masalah sampah di STT HKBP. Kami telah membicarakan ini dengan Dr. Lumbantobing dan Colan Pakpahan M.Th.

Danau Toba semacam firdaus yang tak ditemukan. Banyak orang pergi kesana secara rutin untuk liburan dan akhir minggu.

Foto: Bergholz © 2009


Januari 2009: SiantarLumbantobing

Pada bulan Januari awal semester dimulai. Pertama-tama ada resepsi resmi untuk staff STT HKBP dan bebrapa hari kemudian pembukaan semester. Kedua peristiwa itu membutuhkan kata-kata resmi yang harus diucapkan Thomas, yang sesungguhnya merupakan ujian awal untuk kemampuan berbahasa Indonesia kami. Tetapi setelah beberapa minggu berjuang untuk melatih bahasa kami (kami masih sehat dan bahagia) kami perlahan-lahan tapi pasti menjadi terbiasa dengannya. Pembelajaran akan dimulai minggu depan, jadi Thomas punya waktu 1 minggu untuk persiapan.

SiantarKehidupan sehari-hari kami menjadi lebih mudah. Regina membeli sebuah mobil (setelah dia berhasil menjual mobil lama kami pada bulan Agustus, dia sekarang seorang dealer mobil profesional) dan akhirnya angkutan kami dari Jerman tiba bersamaan dengan perabotan lain yang kami beli di Jawa. Perlahan tapi pasti, kami mulai merasa di rumah.

Foto: Bergholz © 2009


HomepageKami di Indonesia – Tentang kamiSTT-HKBPVEM/UEMBuku tamuImpressum